PENGERTIAN PARADIGMA

Ò Bogdan dan Biklen (1982 dalam Lexy J. Moleong, 1989) menyebut paradigma sebagai kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian.

Ò Deddy Mulyana (2003) menyebut paradigma sebagai suatu ideologi dan praktik suatu komunitas ilmuwan yang menganut suatu pandangan yang sama atas realitas, memiliki seperangkat kriteria yang sama untuk menilai aktivitas penelitian, dan menggunakan metode serupa.

PENGERTIAN POSITIVISME

Ò Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris

Positivisme logis

Ò Positivisme logis adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang membatasi pikirannya pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah.

Ò Fungsi analisis ini mengurangi metafisika dan meneliti struktur logis pengetahuan ilmiah. Tujuan dari pembahasan ini adalah menentukan isi konsep-konsep dan pernyataan-pernyataan ilmiah yang dapat diverifikasi secara empiris

Keyakinan Dasar Paradigma Positivisme

Ò Keyakinan dasar dari paradigma positivisme berakar pada paham ontologi realisme yang menyatakan bahwa realitas berada (exist) dalam kenyataan dan berjalan sesuai dengan hukum alam (natural law). Penelitian berupaya mengungkap kebenaran relitas yang ada, dan bagaimana realitas tersebut senyatanya berjalan

Pendekatan deduktif pada penelitian kuantitatif (creswell,1994)

Metode positif ini mempunyai 4 ciri

Ò 1.Metode ini diarahkan pada fakta-fakta
2. Metode ini diarahkan pada perbaikan terus meneurs dari syarat-syarat hidup
3. Metode ini berusaha ke arah kepastian
4. Metode ini berusaha ke arah kecermatan.

Ò Metode positif juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu pengamatan, perbandingan, eksperimen dan metode historis

Auguste Comte dan Positivisme

Ò Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course of Positivie Philosoph, yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini diletakkan dalam hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud adalah kaitan organis antara gejala-gejala ( diinspirasi dari de Bonald), sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala (diinspirasi dari filsafat sehjarah Condorcet).

Proses Perkembangan Teori Post Positivisme

Paradigma post-positivisme muncul sebagai perbaikan terhadap pandangan positivisme , di mana metodologi pendekatan eksperimental melalui observasi dipandang tidak mencukupi, tetapi harus dilengkapi dengan triangulasi, yaitu penggunan beragam metode, sumber data, periset dan teori

Ò Menurut Denzin dan Lincoln (1994 dalam Agus Salim, 2006) secara umum penelitian kualitatif sebagai suatu proses dari berbagai langkah yang melibatkan peneliti, paradigma teoritis dan interpretatif, strategi penelitian, metode pengumpulan data dan analisis data empiris, maupun pengembangan interpretasi dan pemaparan

POST POSITIVISME

Beberapa asumsi dasar post-positivisme :

Ò Fakta tidak bebas melainkan bermuatan teori

Ò Falibilitas teori

Ò Fakta tidak bebas melainkan penuh dengan nilai

Ò Interaksi antara subjek dan objek peneliti

ONTOLOGI POST POSITIVISME

Ò Bersifat critical realism

Ò Tiga bentuk ontologi yang berkembang :

1. Realisme
2. Nominalisme
3. Konstruksionisme sosial
4. Phillips :

“ontologi post-positivisme tidak menolak gagasan realisme dalam berbagai pendekatan yang menekankan konstruksi sosial atas realitas.

Ontologi post-positivisme = Ontologi konstruksionis sosial

perbedaannya pada cara memandang realitas

– Positivisme = memandang realitas sebagaimana adanya

– Post-positivisme = adanya peran subjek

STRUKTUR TEORI PERSPEKTIF POST-POSITIVISME

Ò Robert Dubin (1978) : theory building

Ò Teori harus menyediakan penjelasan abstrak fenomena empiris dalam bentuk konsep spesifik ataupun definisi

Ò Ada hubungan eksplisit antara konsep abstrak dan observasi empirik

Ò Menekankan pada pendekatan deduktif

FUNGSI TEORI PERSPEKTIF POST-POSITIVISME

Ò Tiga fungsi (Dubin,1978) :

1. Explanation

2. Prediction

3. control

Perbandingan paradigma kualitatif dan kualitatif
Fry (1981, dalam Ahmad Sonhadji, et al, 1996)

Paradigma Kualitatif

Paradidma Kuantitatif

Mengajurkan penggunaan metode kualitatif

Menganjurkan penggunaan metode kuantitatif

Fenomelogisme dan verstehen dikaitkan dengan pemahaman perilaku manusia dari frame of reference aktor itu sendiri

Logika positivisme:”Melihat fakta atau kasual fenomena sosial dengan sedikit melihat bagi pernyataan subyektif individu-individu”

Observasi tidak terkontrol dan naturalistik

Pengukuran terkontrol dan menonjol

Subyektif

Obyektif

Dekat dengan data:merupakan perspektif “insider”

Jauh dari data: data merupakan perspektif “outsider”

Grounded, orientasi diskoveri, eksplorasi, ekspansionis, deskriptif, dan induktif

Tidak grounded, orientasi verifikasi, konfirmatori, reduksionis, inferensial dan deduktif-hipotetik

Orientasi proses

Orientasi hasil

Valid: data “real, “rich, dan “deep”

Reliabel:data dapat direplikasi dan “hard”

Tidak dapat digeneralisasi:studi kasus tunggal

Dapat digeneralisasi:studi multi kasus

Holistik

Partikularistik

Asumsi realitas dinamik

Asumsi realitis stabil

● Metode kuantitatif

● Metode kualitatif

● Menunjukkan hubungan antar variabel

● Menemukan pola hubungan yang

● bersifat interaktif

● Menguji teori

● Menggambarkan realitas yg kompleks

Mencari generalisasi yang mempunyai

● Memperoleh pemahaman makna

nilai prediktif

Menemukan teori

TUJUAN Metode kuantitatif dan Metode kualitatif

Axioms About

Positivism Paradigm

Naturalist Paradigm

The nature of reality

Reality is single, tangible, and fragmentable

Realities are multiple, constructed, and holistic

The relationship of knower to the known

Knower and known are independent, a dualism

Knower and known are interactive, inseparable

The possibility of generalization

Time-and context-free generalizations (nomothetic statements) are possible

Only time-and context bound working hypotheses (ideo-raphic statements) are possible

The possibility of casual linkages

There are real causes, temporally precedent to or simultaneous with their effect

All entities are in a state of mutual simultaneous shaping, so that it is impossible to distinguish causes from effects

The role of values

Inquiry is value-free

Inquiry is value-bound

Contrasting Positivism and Naturalist Axioms

PENELITIAN KUANTITATIF

PENELITIAN KUALITATIF

Menekankan hipotesis jadi yang dirumuskan sebelumnya

Menekankan definisi dalam konteks atau perkembangan penelitian

Menekankan definisi operasional yang

dirumuskan sebelumnya

Menekankan deskripsi naratif

Menekankan pengukuran dan penyempurnaan

keajegan skor yang diperoleh dari instrumen

Menekankan pada asumsi bahwa keajegan inferensi cukup kuat

Pengukurab validitas melalui rangkaian

perhitungan statistik

Pengukuran validitas melalui cek silang dari sumber informasi

Pengukurab validitas melalui rangkaian

perhitungan statistik

Menekankan informan ekspert untuk mendapatkan sampel purposif

Menekankan tekik acak untuk mendapatkan sampel representatif.

Menekankan prosedur penelitian deskriptif naratif

Menekankan prosedur penelitian yang bakumenekankan desain untuk pengontrolan variabel ekstranus

Menekankan analisis logis dalam pengontrolan variabel ekstranus

Menekankan desain untuk pengontrolan khusus untuk menjaga bias dalam prosedur penelitian.

Menekankan kejujuran peneliti dalam pengontrolan prosedur bias

Menekankan rangkuman statistik dalam hasil penelitian

Menekankan rangkuman naratif dalam hasil penelitian

Menekankan penguraian fenomena

Menekankan deskripsi holistik

AKSIOMA

POSITIVIS

(KUANTITATIF)

PARADIGMA NATURALIS

(KUALITATIF)

Hakikat realitas

Realitas adalah tunggal , dapat diukur, dan dapat dipecah-pecah

Realitas adalah jamak, dibentuk dan holistik.

Hubungan antara orang yang

mengetahui dengan yang diketahui

Orang yang mengetahui dengan yang diketahui saling berdiri sendiri , membentuk dualisme.

Orang yang mengetahui dengan yang diketahui saling

berinteraksi,tidak terpisahkan

Kemungkinan

generalisasi

Generalisasi yang terbebas dari waktu dan konteks (pernyataan nomotetik) itu dimungkinkan

Hipotesis kerja yang terikat waktu dan konteks (pernyataan idiografik)

itu dimungkinkan.

Kemungkinan

hubungan kausal

Terdapat sebab-sebab yang nyata yang nyata, yang secara temporal mendahului atau bersamaan dengan akibatnya.

Semua entitas ada dalam suatu keadaan pembentukan yang simultan secara mutual, sehingga mustahil untuk memisahkan dari sebab akibat

Peran nilai

Inkuiri bebas nilai

Inkuiri terikat nilai